Menemukan kesadaran Sejati
Cahaya Inspirasi
Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.
(qs 74 :1-7)
Kesadaran adalah kunci untuk memulai sebuah perjalanan kesuksesan. Keberadaanya adalah anugrah, ketiadaannya adalah bencana bagi orang yang menghasrat kesuksesan. Adalah mustahil kesuksesan dapat diraih bila tanpa kesadaran yang tertanam dalam hati.
Sebagaimana kendaraan tentulah membutuhkan kunci bila hendak menjalankannya menuju ketempat tujuan, amatlah sayang bila sebuah kendaraan yang mahal, bagus, cepat larinya, daya tampungnya banyak, dan canggih tekhnologinya, apabila ternyata diketahui kuncinya hilang, maka semua potensi yang dimilikinya tak dapat difungsikan sebagaimana mestinya, hanya disimpan di garasi dan akhirnya lama kelamaan menjadi usang dan rusak sia sia.
Gambaran tersebut tak jauh berbeda dengan keadaan realita kita, Allah telah mengkaruniakan kita sebuah potensi yang sama untuk mencapai kesuksesan, sebagaimana potensi yang dimiliki oleh kendaraan dalam gambaran diatas, tapi amatlah sayang bila potensi yang kita miliki kecerdasan, kecakapan dan kekuatan fisik tidak bisa kita manfaatkan sebagaimana mestinya dan tepat guna karena tiada kunci kesadaran dalam diri kita.
Kesadaran ibarat lentera didalam ruangan yang gelap, sedangkan ruangan itu adalah hati. Kita slamanya tidak akan pernah tahu apa saja didalamnya dan bagaimana bentuk dan isi ruangan tersebut bila lentera tak dinyalakan, bisa jadi diruangan tersebut terdapat ular berbisa yang bisa mencelakakan bahkan membunuh, atau bisa juga terdapat barang-barang berserakan disetiap sudut rungan.
Bila lentera telah menyala, maka kita akan tahu apa yang ada diruangan itu dan apa yang seharusnya kita lakukan, mungkin bisa kita secepatnya membunuh ular tersebut, atau menata rapi barang barang pada tempatnya, sehingga indah bila dilihat, dan aman bila ditempati
Seorang yang sadar, pasti akan mengetahui siapa dirinya, dimana dia berada dan apa yang seharusnya dia lakukan, dia tak kan ragu untuk menetukan apa yang seharusnya dia lakukan, namun sebaliknya orang yang lalai adalah orang yang tak paham siapa dirinya, dimana dia, dan apa yang seharusnya dia lakukan.
Keadaannya seperti buih-buih dilautan yang terombang ambing ombak, atau seperti alang-alang yang bergoyang mengikuti arah angin yang menghempasnya tak tentu arah. Atau seperti seorang yang terkena hipnotis, yang bersedia melakukan apa saja yang diperintahkan oleh org yang menghipnotisnya.
Setiap bagian waktunya, hanya dibuang sia-sia untuk hal yang seharusnya tak dia lakukan, bahkan untuk hal yang tak boleh dia lakukan. Tak ada prestasi nyata baginya, hanya angan angan fatamorgana yang menghiasi indah pikirnya.
Alquran telah mengabarkan keadaan mereka seperti binatang ternak, bahkan lebih buruk lagi dari itu, mereka mempunyai mata yang tidak dipergunakan untuk melihat hakikat kebenaran, mereka menpunyai telinga tapi tidak digunakan untuk mendengar nasehat kebenaran, mereka mempunyai hati tapi tidak digunakan untuk memahami tanda tanda kebenaran, karena keadaan mereka telah tertutupi selimut kelalaian yang begitu tebal..
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Qs 7 :179)
Tidak ada upaya yang musti dilakukan oleh seorang yang menghasrat kesuksesan, selain berusaha menemukan kunci kesadaran dalam hatinya. Hanyalah ilmu yang akan membimbingnya menuju kesadaran sejati. Dan sebaik baik ilmu adalah apa yang telah diturunkan oleh sang pencipta kesuksesan, yaitu Alquran melalui RasulNya yang mulia Muhammad SAW.
Dialah pembimbing sejati yang terbukti telah berhasil membimbing, merubah dan menjadikan para sahabat yang jahil, jahat dan kasar menjadi orang yang sukses didunia dan diakherat, dimata makhluk maupun penciptanya. Yang mampu merubah bangsa arab yang hina menjadi bangsa yang disegani, dihormati bahkan dimuliakan oleh seluruh bangsa didunia.
Rasul telah membimbing mereka dengan kekuatan ilmu, iman, amal dan perjuangan dalam sebuah system tarbiyah yang tertata rapi, hanya perlu waktu singkat, maka keberhasilan telah dapat diraih
Ilmu akan diketahui berawal dari sebuah ketidaktahuan dan pertanyaan, berlanjut melalui pencarian yang akhirnya muncul sebuah jawaban. Dan jawaban itulah yang dinamakan ilmu. Dan ilmu itulah yang akan menyalakan kesadaran. Maka penting bagi seseorang penempuh jalan adalah bertanya kepada dirinya sendiri tentang beberapa pertanyaan. Berikut beberapa pertanyaan dasar yang akan memancing sebuah jawaban, selanjutnya akan menyalakan kesadaran akan sebuah kebenaran sejati.
1. Siapa dirimu dan Siapa penciptamu ?
Pertanyaan ini akan berkisar tentang pengenalan diri dan penciptanya, yang akan menjadi ruang nalar tentang pengertian sesungguhnya akan dirinya dan potensi yang dimilikinya, serta pengertian sesungguhnya tentang kedudukan tuhan atas dirinya. secara pasti maka pertanyaan diatas akan menggali sebuah jawaban dibawah ini.
· Aku adalah makhluk sedang Allah adalah penciptaku
وَهُوَ الَّذِي ذَرَأَكُمْ فِي الْأَرْضِ وَإِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
Dan Dialah yang menciptakan serta mengembang biakkan kamu di bumi ini dan kepada-Nyalah kamu akan dihimpunkan. (Qs 23:79)
Tidak bisa dipungkiri bahwa sebenarnya kita adalah makhluk, sesuatu yang telah diciptakan oleh sang pencipta yaitu Al-Kholik, makhluk tak kuasa sedikitpun untuk hidup dan berkembangbiak kecuali apa yang telah dikehendaki oleh penciptanya.
Setiap pencipta sudahlah pasti berkuasa penuh atas ciptaannya, sebagaimana ketika kita membuat kursi maka kita yang memilih bahan bakunya, kayu jenis apa yang akan kita pilih, begitu juga model dan bentuknya, seberapa besar daya muatnya, apa warna catnya, mau ditaruh dimana, sampai kapan kursi tersebut akan dipakai, semua sudah kita pertimbangkan sedetail mungkin, mana mungkin kursi bisa menentukan itu semua bagi dirinya.Singkatnya kursi tersebut akan dikatakan produk sukses apabila sesuai dengan kehendak pembuatnya.
Persis dengan keadaan kita, Allah telah menciptakan kita dari tanah, menentukan postur fisik yang sesuai , apa warna kulit kita , sampai kapan umur kita, dan sebagainya, pendek kata kita dikatakan makhluk yang sukses bila sesuai dengan kehendak Allah, sebaliknya bila kita mencoba keluar dari kehendak Allah maka kita akan binasa
· Aku adalah hamba sedang Allah adalah majikanku
إِن كُلُّ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْداً
Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai seorang hamba. (Qs 19:93)
Kita harus meyakini bahwa kita adalah hamba, sifat seharusnya seorang hamba adalah lemah, hina dan taat kepada majikannya, semakin dia merasa lemah, hina dan taat kepada majikannya, maka majikannya semakin suka kepadanya, dan itulah ketetapan yang lazim berlaku.
Terlebih lagi ketika seorang hamba merasa tidak berharap apa apa selain keridhoan majikannya, maka sudah barang tentu maka majikan akan semakin cinta kepadanya, bila majikan cinta padanya segala sesuatu milik majikan akan direlakan untuknya.
Sebuah kisah di suatu kerajaan terdapat Seorang Raja arif yang mencintai seorang hambanya, sebut saja namanya si Ayas. Setiap harinya sang Raja begitu memperhatikan dan berlaku baik kepadanya, terlebih lagi sang raja mencukupi semua kebutuhan hambanya tersebut, sehingga membuat heran dan iri seluruh isi kerajaan
Maka suatu ketika perdana menteri kerajaan memberanikan diri untuk bertanya kepada Sang Raja.
“Wahai paduka !, kenapa paduka begitu baik kepada si Ayas , hamba sahaya yang hina itu, bukankah kami lebih mulia dan berhak mendapatkan kebaikan paduka dari pada si Ayas itu?”
Maka Si Raja yang arif itu tak menjawab pertanyaan sang perdana menteri, hanya berkata sepatah kata kepada perdana menteri.
“Bila kau ingin tahu kenapa aku berbuat demikian kepada Ayas, maka kumpulkan penghuni kerajaan disuatu ruangan yang besar dikerajaan ini, maka akan aku kabarkan kepada kalian semuanya”
Maka seketika itu perdana menteri memerintahkan kepada semua penghuni kerajaan, besar kecil, tua-muda, semua nya telah berkumpul termasuk si Ayas si hamba sahaya itu.
Maka berkata sang Raja kepada semua yang hadir diruangan itu “Wahai penghuni kerajaan, sekarang perhatikanlah ! akan aku kabarkan berita besar kepada kalian semua, bahwa apa apa yang kau lihat dan kalian pegang, semua akan menjadi milik kalian tanpa kecuali”
Maka semua heran dan bertanya tanya satu sama lain dan berkatalah sang Perdana Menteri “Apakah benar ucapan Paduka tersebut?” jawab Raja “benar !”. Maka seketika itu ruangan menjadi gaduh, semua orang telah berebut harta milik raja, ada yang mendapat mahkota raja, singasana, emas perak, pakaian, terlebih lagi ada yang mendapatkan istri istri raja.
Ketika semua telah mendapatkan apa yang diinginkannya, dan tak satupun diruangan itu yang tak kebagian sesuatu, hanya ada satu orang yang hanya diam tertunduk tak memegang apa apa, dialah Ayas si Hamba sahaya.
Maka Bertanya sang Raja kepada Ayas “Wahai Ayas kenapa kau diam dan tak memegang apa apa, apakah kau tak menginginkan harta kekayaanku?”
Ayas menjawab “bukannya hamba tak ingin, tapi hamba masih memikirkan ucapan Paduka antara harap dan takut, apakah benar ucapan Paduka tersebut?” maka Raja berkata “Benar wahai Ayas ..“
Maka seketika itu Ayas berjalan menghampiri Sang Raja mendekap dan memeluknya erat sang Raja. Maka seisi ruangan heran dan bertanya-tanya, tapi Sang Raja hanya tersenyum, karena dia telah mengetahui kenapa Si Ayas berbuat seperti itu
Dan berkatalah sang Raja “Wahai Ayas kenapa kau berbuat demikian?” Ayas menjawab “Wahai Raja.. ketika paduka berkata bahwa apa yang aku pegang akan menjadi milikku, maka aku putuskan untuk memelukmu erat, karena aku mencintaimu dan ingin memilikimu. Bila aku memilikimu maka seisi kerajaan akan menjadi milikku !”
Maka seisi ruangan menangis terharu mendengar perkataan Si Ayas, dan berkatalah Sang Raja “Wahai perdana menteri, saksikanlah, bahwa karena cintanya kepadaku inilah, sehingga aku berbuat baik kepadanya bahkan aku mencukupi segala kebutuhannya”.
kisah ini adalah pelajaran realitas bagi kita, yang seharusnya menjadi pelajaran praktis, bahwa ketaatanlah yang akan menjadikan kita sebagai seorang hamba yang mulia, semakin kita taat secara totalitas, maka disitulah letak kemuliaan kita.
· Aku adalah seorang penempuh jalan sedang Allah adalah tujuanku
أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ
Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat oleh orang-orang yang sebelum mereka?......(Qs30:09)
Hidup adalah sebuah perjalanan, yang menawarkan dua pilihan jalan yang hendak dilaluinya, yaitu jalan kesuksesan yang mengantarkan kepada akhir kebahagiaan atau jalan kegagalan yang mengantarkan pada kesengsaraan dan penyesalan. Karena memang setiap perjalanan, pasti ada akhirnya, mau atau tidak mau, sungguh-sungguh atau tidak sungguh-sungguh setiap perjalanan akan berakhir, sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan kepadanya.
Jiwa yang paham bahwa dunia adalah perjalanan, maka dia akan mampu menimbang dan memilih apa dan bagaimana yang seharusnya dia lakukan, dia akan mampu belajar banyak kepada jiwa jiwa yang terlebih dahulu telah sampai di akhir perjalanan, yaitu kepada jiwa yang salah jalan atau kepada jiwa yang benar jalannya.
Betapa beruntungnya seorang penempuh jalan bila diakhir perjalanannya kebahagiaan yang diperolehnya, dan sungguh menderitanya seorang penempuh jalan bila diakhir perjalanannya kerugian yang didapatkannya,.
Setiap putaran waktu yang semakin mengejar takkan mungkin bisa diulang, baik sekejapan mata atau seperhelaan nafas, bagai kereta listrik yang melesat dengan cepat sedangkan kita berlari didepannya. Bila kita lengah maka kita akan dilindasnya.
Suatu ketika Rasulullah SAW berpesan kepada sahabatnya “Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau Penempuh jalan “, ,Jika kamu berada di sore hari jangan tunggu pagi hari, dan jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore hari, gunakanlah kesehatanmu untuk sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu “ (Riwayat Bukhori).
Nasehat ini adalah untuk kita semua, setiap jiwa yang hidup didunia, betapa Rasulullah SAW telah mewasiatkan pada kita, bahwa perjalanan kita didunia ini hanya satu kesempatan, tak akan ada kesempatan yang lain, bila pagi jangan menunggu sore, karena boleh jadi sore hari kau telah tiada, bila sore hari jgn menunggu pagi hari, karena belum tentu pagi kau masih ada, bila sehat jgn menunggu sakit, karena sakit adalah pemadam semangat. Bila engkau kaya jgn menunggu miskin karena kemiskinan akan membuatmu berputus asa. Bila kau hidup jgn menunggu mati, karena mati adalah akhir perjalanan, yang tak akan bisa diulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar